Sejak bulan Juli 2012, penulis harus berpisah dengan keluarga di Cikarang, dan mencari nafkah di Kota Wali, Demak, Jawa Tengah. Pada awalnya memang terasa berat, tapi kemudian, ternyata penulis mendapatkan beberapa pengalaman baru dan pelajaran hidup yang penulis pikir ada baiknya bila dibagikan kepada banyak orang. Salah satunya adalah pelajaran hidup yang penulis dapatkan dari seorang ibu tua penjual amplop di depan kantor pos besar Semarang.
Kejadian ini belum lama, tepatnya tanggal 3 November 2012 yang lalu. Kisahnya berawal saat penulis berniat mencari sebuah kantor pos karena harus mengirimkan sebuah gadget game NDS bagi anak tercinta di Cikarang. Siang itu, saya langkahkan kaki menuju kantor Pos Besar Semarang yang berada di Jalan Pemuda. Tepat di depan pintu kantor pos, berjajar beberapa kios yang menjual amplop dan beberapa benda pos lain. Kebetulan saya memang membutuhkan amplop coklat untuk membungkus paket yang akan saya kirim. Entah kenapa, hati saya kemudian menggiring kaki ini menuju kios yang dijaga oleh seorang ibu yang sudah tua.
Saya kemudian memilih sebuah amplop coklat besar, dan memasukkan paket saya ke dalamnya, sembari bertanya kepada si Ibu, “pinten niki Bu (Berapa harganya Bu)?” Si Ibu menjawab “setunggal ewu (seribu)”. Tangan saya pun mengambil dompet hendak membayarnya, namun si Ibu berkata “nopo mboten kagengen toh (apa itu tidak kebesaran)?” Saya tertegun mendengar perkataan si Ibu, belum sempat saya berkata lagi, tangan si Ibu tua sudah bergerak memilihkan amplop coklat yang lebih kecil yang ternyata lebih pas untuk paket saya. “Nek niki sangang atus (kalau yang ini sembilan ratus).” Saya pun mengangguk, si Ibu tua kemudian memasukkan paket saya ke dalam amplop coklat itu, kemudian berkata “kulo lem nggih ben rapet (saya lem ya biar rapat).“ Saya pun kembali tertegun, tapi tidak sampai di situ, si Ibu kemudian melanjutkan,“kulo isolasi nggih (saya selotip ya).“ Sambil meraih selotip bening miliknya dan merekatkan amplop saya. Setelah itu, ia memberikan paket saya yang sudah terbungkus rapi itu kepada saya. Saya pun menerimanya dan bertanya,“pinten Bu (berapa Bu)?“ Si Ibu menjawab,“sangang atus (sembilan ratus)“ Saya kembali tertegun dan menyodorkan uang seribu rupiah kepada si Ibu. Si Ibu kemudian hendak mengembalikan seratus rupiah kepada saya, namun saya tolak. Waktu saya melangkah pergi, tak lupa Ibu itu berkata,”matur nuwun Mas (terima kasih Mas)”.
Si Ibu tua penjual amplop yang saya temui siang itu, telah mengajarkan banyak hal kepada saya. Sebagai seorang marketing, dia adalah marketing hebat. Dia fokus kepada pelanggan (focus to customer), mengerti apa yang dibutuhkan oleh pelanggannya. Ia tidak berusaha mencari keuntungan besar dengan memanfaatkan ketidaktahuan pelanggannya. Ia menawarkan amplop yang lebih sesuai dengan kebutuhan saya, walau itu artinya ia hanya menjual barang yang lebih murah dengan keuntungan yang mungkin lebih kecil. Dia tidak peduli hal itu, yang penting, itu yang dibutuhkan pelanggannya.
Bukti lain bahwa dia adalah marketing hebat adalah dia memberikan lebih dari yang pelanggannya harapkan (exceeding customer expectation). Ia tahu pelanggannya hanya ingin beli amplop, tapi si Ibu memberikan pelayanan lebih (secara gratis) yaitu memberikan lem dan selotip pada amplop saya. Itu artinya dia memberikan dari barang pribadinya (yang tidak dijual) secara gratis, yang kalau dihitung secara ekonomi, berarti mengurangi keuntungannya. Tapi si Ibu tidak peduli, yang dipentingkan adalah memberi pelayanan terbaik kepada pelanggannya.
Terus terang, kalau saja saya adalah Menkominfo atau Meteri BUMN, mungkin Ibu ini yang saya angkat sebagai direktur PT Pos. Dia memberi pelayanan terbaik untuk pelanggannya tanpa itung-tungan. Sebagai pelanggan saya puas, dan saya punya keinginan kuat untuk kembali lagi ke Ibu tua itu, bila kelak membutuhkan benda-benda pos. Saya malah merasa menyesal “hanya” memberikan tips sebesar seratus rupiah untuk pelayanannya itu. Mestinya saya berikan dua ribu rupiah, karena itu setimpal dengan pelayanannya.
Dari kacamata iman, saya merasa Ibu tua itu telah mengajarkan pada saya apa yang disebut sebagai kepedulian. Peduli terhadap sesame itu ternyata tidak memandang status dan level ekonomi. Walau saya berasal dari golongan ekonomi yang (mungkin) lebih tinggi dari Ibu tua itu, namun dia tidak memanfaatkan keadaan. Dia tidak mendorong saya untuk membeli barang yang lebih mahal (walau saya tidak keberatan), dan memberikan barang yang lebih murah dan lebih sesuai. Dia juga tidak segan “mensubsidi” saya dengan lem dan selotip pribadinya, walau saya tidak meminta. Mungkin yang ada dalam pikirannya, paket saya harus rapi dan aman. Walau begitu si Ibu tidak merasa rugi. Wow!!
Dalam dunia nyata, banyak orang yang berlomba mengejar untung sebesar-besarnya. Banyak pedagang yang membujuk pelanggannya agar membeli dagangannya yang lebih mahal, walau dia tahu dengan yang lebih murah pun sudah cukup memenuhi kebutuhan pelanggannya. Banyak dari kita juga yang selalu menghitung untung-rugi dari apa yang akan kita berikan. Boleh memberi, asal jangan sampai mengurangi kenikmatan kita sendiri. Ada umat yang berhenti sementara menjadi orang tua asuh di lingkungannya karena harus membayar iuran gereja yang bertubi-tubi, mulai dari kolekte, gopek sehari, dua puluh ribu sehari, dan iuran Paskah. Umat itu tidak mau mengurangi anggaran belanjanya di mal, dan menganggap yang dikeluarkan untuk gereja sudah cukup.
Sering pula terjadi kita enggan mempedulikan atau membantu orang lain yang lebih tinggi jabatan atau tingkat ekonominya. Kita sering beralasan, rugi lah membantu dia, sama aja menggarami lautan, atau rugi lah, kita sendiri juga punya masalah sendiri, dan berbagai alasan lain.
Si Ibu tua penjual amplop telah mengajarkan kepada saya memberikan kepedulian kepada sesama tanpa memandang golongan dan status sosial. Peduli harus diberikan dengan ikhlas tanpa menghitung untung rugi dan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Terima kasih Ibu tua…..
By: Catiarso Nugroho Widi